Cewek
Pilih kota terdekat,
jika kota Anda tidak terdaftar
Cowok, 27 Rumit
Profesi:
Profesional (Dokter, Pengacara, dll)
Perusahaan:
WEL ---WAHANA EXPERIENTIAL LEARNING --- (PEAK MANAGEMENT, ESENSI, PENDAR SEMESTA)
Sekolah:
SDN SUKALUYU I BANDUNG; SMPN 22 BANDUNG; SMUN 14 BANDUNG
Universitas:
UNIVERSITAS PADJADJARAN
Afiliasi:
FAST (Facilitator Associate of Teladan), E-CLUB, FACE (Facilitator Club of ELTAPS), Tidusaniy Volunteer Club
Hobi:
belajar dan mengajar, traveling
Makanan Favorit:
Makanan yang halal & thoyib
Film Favorit:
Film yang memotivasi untuk dapat merubah diri menjadi lebih baik
Musik Favorit:
musik yang tidak membuat hati menjadi terlena
Tentang :
Kukabarkan kepadamu tentang keelokan yang diciptakan atas tujuh bagian.
Yaitu keindahan, kecantikan, penerangan cahaya, kegelapan, dan ketipisan serta kelembutan.
Bertanya kepadaku
Siapa makhluk pemegang keelokan
Kukabarkan kepadamu
Tatkala makhluk-makhluk diciptakan
Diberinya tiap jenis makhluk
Bagian-bagian dari keelokan itu:
Keindahan diberikan untuk sorga
Kecantikan diberikan untuk bidadari
Penerangan diberikan untuk matahari
Cahaya diberikan untuk bulan
Kegelapan diberikan untuk malam
Ketipisan diberikan untuk awan
Kelembutan diberikan untuk angin
Diberi apakah bumi, tempat makhluk lain berpijak?
Diberi apakah langit, tempat makhluk lain berteduh?
Kukabarkan kepadamu
Dua makhluk besar itu dihiasi dengan seluruh tujuh unsur keelokan:
Bumi dan langit bisa indah bisa mencantik
Langit dan bumi bisa cantik bisa menerang
Bumi dan langit bisa terang bisa mencahya
Langit dan bumi bisa cahaya bisa menggelap
Bumi dan langit bisa gelap bisa menipis
Langit dan bumi bisa tipis bisa melembut
Bertanyalah kepadaku
Siapa yang mewarisi keelokan?
Kukabarkan kepadamu
Tatkala Adam dan Hawa diciptakan dilengkapilah calon manusia itu
Dengan tujuh sifat keelokan:
Keindahan untuk rohnya
Kecantikan untuk lidahnya
Penerangan untuk wajahnya
Cahaya untuk matanya
Kegelapan untuk rambutnya
Ketipisan untuk hatinya
Kelembutan untuk rahasianya
Amboi, manusia sejagad raya
Kamulah terbagus dari segala makhluk
Sebuah renungan:
Sembilan bulan sudah berada dalam kandungan dengan penuh perjuangan.
Seorang ibu melahirkan dan membesarkan anaknya dengan penuh kesabaran tanpa pamrih sedikitpun.
Sudahkah kita berbakti terhadap orang tua ?
Atau kita terlalu sibuk, sehingga lupa untuk melakukannya.
Atau kita sudah merasa cukup dalam membalas kebaikan orang tua.
Ridho ALLOH tergantung ridho orang tua.
Ketakutan tidak pernah lepas dari fikiran kita, takut miskin, takut tidak makan, takut pada dosen, takut tidak tercapai keinginan, takut gagal.
Cukuplah rasa takut kita hanya kepada ALLOH saja dengan melaksanakan apa yang diperintahkan-Nya.
Sering kita lihat, para remaja, orang tua, anak-anak, laki, perempuan, sibuk memilih pakaian, perhiasan, rumah, kendaraan, dll agar tampil cantik, gagah, anggun, elegan, mempesona, dll.
Tetapi kadang kita lupa untuk memperhatikan hati kita.
Pernahkah kita sibuk untuk memperhatikan hati kita.
Atau mungkin kita terlalu sibuk memperhatikan hati orang lain.
Sehingga lupa untuk membersihkan hati kita sendiri.
Aku heran pada orang yang yakin akan kematian tapi ia hidup bersuka ria.
Aku heran pada orang yang yakin akan pertanggungjawaban segala amal perbuatan di akhirat tapi ia asyik mengumpulkan dan menumpuk harta benda.
Aku heran pada orang yang yakin akan kubur tapi ia tertawa terbahak-bahak.
Aku heran pada orang yang yakin akan adanya alam akhirat tapi ia menjalani kehidupan dengan bersantai-santai.
Aku heran pada orang yang yakin akan kehancuran dunia tapi ia menggandrunginya.
Aku heran pada intelektual yang bodoh dalam soal moral.
Aku heran pada orang yang bersuci dengan air sementara hatinya masih tetap kotor.
Aku heran pada orang yang sibuk mencari cacat dan aib orang lain sementara ia tidak sadar sama sekali terhadap cacat yang ada pada dirinya sendiri.
Aku heran pada orang yang yakin bahwa ALLOH senantiasa mengawasi segala perilakunya tapi ia berbuat durjana.
Aku heran pada orang yang sadar akan kematiannya kemudian akan tinggal dalam kubur seorang diri lalu dimintai pertanggungjawaban seluruh amal perbuatannya tapi ia berharap belas kasih dari orang lain.
Manusia hanyalah pengendara di atas punggung usianya,
Digulung hari demi hari, bulan , dan tahun tanpa terasa,
Nafasku terus berjalan, setia menuntunku ke pintu kematian,
Sebenarnya dunialah yang kujauhi dan liang kuburlah yang aku dekati,
Satu hari berlalu, berarti satu hari berkurang umurku,
Umurku yang tersisa di hari ini sungguh tidak ternilai harganya,
Sebab esok hari belum tentu jadi bagian dari diriku,
Karena itu, jika satu hari berlalu tapi tiada pahala dan keyakinanku yang bertambah,
Apalah arti hidupku di mata ALLOH ?
(Renungan Kalbu)
Orang yang ingin aku temui:
siapa saja yang tertarik bagaimana menggunakan/mengoptimalkan pengalaman menjadi sebuah guru terbaik dan menghasilkan kwalitas baru yang lebih baik? kirim aja email kamu....
ke : kera_putih99@yahoo.com
Teman untuk kerjasama
Kawan untuk berbagi
Sahabat untuk menjadi partner dalam salah satu episode hidup ini
